Kerikil-kerikil Kecil

Terhampar, Tampak Tak Berarti

Cinta adalah Rahasia

Sepenggal Puisi dari Rumi

Pernahkah kau hirup semilir wangi angin?

Padahal dia menyapamu setiap harinya

Pernahkah kau sentuh udara?

Padahal dia menghampirimu setiap detiknya

Dan pernahkah kau tatap jauh ke dalam mataku?

Padahal kutatap kau setiap kalinya

Cinta adalah rahasia…

Sama ketika matahari tak pernah biarkan kita menyentuhnya

Hanya izinkan kita rasakan hangatnya

Sama ketika air tak pernah mau mengalir ke atas

Hanya inginkan kita mengikuti alirannya

Pernahkah kau dengarkan nafasku?

Ketika kupaksa tuk tetap ada saat kau menyapaku

Atau saat jantungku berdebar hebat

Ketika suaramu lembut memanggil namaku

Hanya tersenyum aku pekat

Genggam hati sekuat tenaga

Dan sekali lagi…

Seperti yang sebelumnya

Aku hanya ingin kau tau

Cinta tak pernah kuminta

Kan menyapaku untukmu

– (Mawlana) Jalalud-Din Rumi –

Takdir, Sebuah Pepatah dan Sepenggal Kisah

Siang tadi saat pikiran saya hanyut bersama kegalauan menjelang UAS entah kemana, tiba-tiba saya (maksudnya pikiran saya) bertemu dengan sesosok kura-kura tua yang sudah tidak asing lagi. Beliau adalah Master Oogway. Seorang tua renta yang sebenarnya adalah seorang guru besar yang berwujud kura-kura dalam film Kung Fu Panda. Memang hanya sebuah tokoh animasi namun bagi saya pribadi tokoh itu memberi banyak inspirasi. Salah satu nasihatnya yg saya ingat yaitu sebuah pepatah lama yang ia sampaikan pada muridnya, Shifu yang kalau tidak salah begini, “One often finds his destiny in the path he takes to avoid it”. Pepatah itu memberi tahu kita bahwa terkadang kita mendapati takdir kita saat kita berusaha menghindarinya.

Teringat akan pepatah itu, muncullah sepenggal kisah dalam memori saya yang pernah saya dapatkan dari seorang Darwish (darwish= sebutan untuk murid di kalangan sufi). Dalam tulisannya, sang darwish menceritakan bahwa seperti biasa, sang Syeikh (Mursyid) tengah duduk di tengah-tengah para darwish dan mengisahkan sepenggal kisah. Kali ini Syeikh menceritakan sebuah kisah tentang Raja Sulaiman ‘alaihissalam (Solomon/Slhomo/Salomo), sebuah kisah kuno dari Yarussalam (Jerusalem).

Begini kisahnya,

Suatu hari, saat Raja Sulaiman sedang berjalan-jalan sendiri di taman istana, ia bertemu Izrail, Sang Malaikat Pencabut Nyawa, yang sedang mondar-mandir dengan wajah gelisah. Sulaiman kenal betul wajah malaikat itu, sebab ia diberi karunia bisa menyaksikannya saat ia melayang, mengintai di atas peperangan, atau di tenda-tenda mereka yang sedang terluka dan sekarat. Ketika Sulaiman bertanya kepadanya tentang apa yang membuatnya gelisah, malaikat itu mengeluh dan berkata bahwa dalam daftar orang yang harus dicabut nyawanya, ada dua juru tulis Sang Raja: Elihoreph dan Aljah.

Kini Sulaiman sedih ketika menyadari bahwa ia akan kehilangan dua juru tulis kesayangannya, yang sudah akrab dengannya sejak kecil. Ia menyayangi keduanya seperti saudaranya sendiri. Karena itu, ia lantas memerintah para jin-nya untuk membawa Elihoreph dan Aljah ke kota Luz, satu-satunya tempat di mana Malaikat Maut akan kehilangan kekuasaannya. Dalam sekejap mata, sang jin membawa keduanya, tetapi kedua orang itu meninggal tepat pada saat keduanya sampai di pintu gerbang kota itu.

Sehari kemudian, Izrail muncul di depan Sulaiman. Malaikat Maut itu tampak senang dan berkata, “Terima kasih, wahai Raja… Engkau telah mengirimkan dua juru tulismu ke tempat yang telah ditentukan. Keduanya telah ditakdirkan untuk mati di depan gerbang kota itu, tapi saat itu aku tak tahu bagaimana cara membawa mereka sampai ke sana karena jaraknya sangat jauh dari sini.”

Kisahnya belum selesai tapi saya sela dulu sebentar. Sepenggal kisah tadi memberi kita pelajaran yang sekiranya berkaitan dengan pepatah dari Master Oogway tadi. Begitulah cara kerja takdir. Kita tetap akan mendapatinya sekalipun kita menghindarinya. Tak ada yang bias mengganggu gugat dan mengubahnya kecuali Dia Yang Memiliki ketentuan-ketentuan itu. Dan yang bisa kita lakukan adalah menerima apa adanya, atau memohon padaNya agar Ia berkenan mengubahnya. Terkadang kita memang sulit menenerima ketentuanNya. Tapi coba sekarang kita tanyakan pada diri kita sandiri, “untuk apa aku menghindari ketentuanNya?” bukankah kita diajari bahwa ketentuanNya adalah ketentuan tebaik. Berikut sisa dari kisah itu yang saya harap bisa menyudahi pertanyaan tadi.

Sulaiman pun menangis tersedu-sedu. Hatinya terbelah antara kesedihan dan kemarahan, karena kematian dua sahabatnya dan juga sedih mengingat bahwa ajal adalah sesuatu yang tak terelakkan.

Melihat ini, Izrail terheran- heran. “Kenapa engkau menangis, wahai Raja Dunia?”

“‘Sebab sahabat lamaku kini tak lagi bersamaku”, kata Sulaiman.  “Apakah engkau tidak kasihan pada orangorang yang kau cabut nyawanya?”

“Kasihan?” seru Izrail. “Engkau menangis karena kehilangan persahabatan dengan mereka. Sesungguhnya kau bersedih pada dirimu sendiri. Dan kemarahanmu sesungguhnya adalah rasa kasihan pada dirimu sendiri. Kematian adalah salah satu anugerah terlembut dari Tuhan. Kematian memisahkan orang dari kegembiraan dan kesedihan sementara, yang hanyalah setetes belaka bagi jiwa. Wahai, Raja, di balik kematian ini terbentang Samudra Cahaya. Segala puji bagi Allah, karena aku, yang menurutmu adalah Malaikat Maut, sesungguhnya adalah Malaikat Rahmat.”

Kata-kata dari Izrail Sang Malaikat Maut sekaligus Malaikat Rahmat mungkin memang agak rumit untuk kita fahami karena pada dasarnya kisah ini lebih popular dikalangan para sufi. Namun setidaknya dalam kisah itu Izrail memberi kita pelajaran bahwa setiap ketentuanNya adalah anugerah terlembut dari Sang Maha Pemberi Anugerah.

Yogyakarta, 5 Januari 2012

– Wisnu Anindyojati –

Ketidaksempurnaan yang Sempurna

Beberapa hari yang lalu saya mendapat sebuah sms cukup panjang berisikan sebuah nasehat yang mengingatkan saya pada sepenggal percakapan antara saya dan seorang kawan ngobrol. Percakapan itu kemudian benar-benar mengubah pandangan saya dan memberi saya sebuah pelajaran yang sangat berharga. Dan saya harap pelajaran itu bisa saya bagikan dalam tulisan ini.

Jadi begini ceritanya…

Sebagai seseorang yang tengah berumur belasan, saya masih giat-giatnya belajar tentang apa itu kebaikan dan kesempurnaan hidup. Maklum, namanya juga anak muda. Masih belajar dan ikut-ikutan sana-sini sekedar untuk tahu sebenarnya siapa diri ini. Dan yang jadi media belajar saya ya kehidupan sehari-hari. Dalam arti saya berupaya jadi pribadi yang baik dan sekaligus mengambil pelajaran dari apa yang saya jalani dan alami.

Hingga satu saat saya melakukan sebuah kesalahan. Saya rasa itu kesalahan besa karena saya merasa telah menyakiti seseorang dan sekaligus merugikan diri saya sendiri karena hubungan saya dengan orang itu jadi kacau. Dan itu membuat saya merasa gagal dlam belajar menjadi sempurna. Saya lantas menceritakan masalah saya itu pada seorang kawan ngobrol. Kemudian terjadilah percakapan diantara kami berdua yang sekiranya begini isinya:

Teman : sudahlah… yang sudah biarlah sudah. Perbaikilah jika kamu ingin memperbaikinya namun jangan kau paksakan dirimu sendiri.

Saya : inilah si brengsek. Tak cukup hanya menyakiti orang lain, namun juga merugikan diriku sendiri.

Teman : hei,, perbaikilah dulu caramu memandang dirimu sendiri. Dia saja yang kamu sakiti belum tentu memandangmu seburuk itu.

Saya : bagaimana bisa seorang Wisnu Anindyojati menganggap baik dirinya sendiri jika ia belum mampu memperbaiki kesalahannya.

Teman : hah… Tak kusangka seorang Wisnu Anindyojati yang saya kenal seperti itu. Ternyata Wisnu Anindyojati seorang yang terlalu sulit untuk memafkan dirinya senndiri. Ternyata Wisnu Anindyojati seorang terlampau perfeksionis.

Kata-kata terakhir itu menghentikan percakapan kami. Saya kehabisan kata-kata mendengarnya. Saya yang tengah dalam keadaan emosi yang tidak stabil hanya bisa diam dan merasa terjatuh mendengar kata-kata itu. Namun setelah agak tenang, saya mendapat sebuah pelajaran dari kata-kata itu. Sebuah pelajaran yang sangat berharga menurut saya.

Pelajaran yang saya dapatkan,,,,,

Dalam sebuah usaha pembelajaran akan kesempurnaan, terkadang kita terjatuh hanya karena sebuah kesalahan kecil. Kita merasa gagal menjadi sempurna seperti yang kita harapkan dari pembelajaran itu hanya karena sebuah kesalahan. Namun di balik itu, sebenarnya kita lupa akan hakikat kesempurnaa. Kita lupa bahwa kesalahan lah yang memanusiakan manusia. Kesalahan lah yang menjadi ciri khas manusia yang benar-benar manusia. Kesalahan lah yang mengurangi kesempurnaan sekaligus menyempurnakan. Kesalahan lah yang membatasi kesempurnaan. Karena pada hakikatnya, manusia yang sempurna adalah yang tidak sempurna.

Maukah Engkau Mengambilkan Sebuah Saja Untukku?

Kisah yang satu ini sebenarnya sudah cukup lama saya tulis dan sempat saya jadikan note (catatan) di eFBe, hehe

———————————————————————————-

Sudah tiga hari ini Raka tinggal di sebuah kampung kecil yang sangat berbeda dengan tempat ia biasa tinggal. Ya, dia diajak oleh kedua orang tuanya pulang ke kampung halaman ayahnya, di rumah kakeknya.

Akhir-akhir ini memang udara begitu terik. Raka, si bocah umur sepuluh tahun itu tertarik melihat pemandangan di depan rumah kakeknya itu. Seorang anak yang sepantaran dengannya duduk di bawah pohon mangga dan tengah sibuk menguliti mangga dengan giginya serta sesekali meringis dan mengerutkan dahinya. Tertarik dengan kesibukan anak itu, Raka melangkah mendekat.

“hey, Kau, anak kota,, kemarilah!” Panggil bocah yang tengah duduk sibuk menyantap mangga petikannya

“Siapa namamu?”

“Raka” Jawab Raka dengan pandangan mata mengarah pada mangga yang tinggal separuh.

“Aku Amir.. kepingin? Ambil aja. Masih banyak tuh di pohon”

Anak tadi, Amir, menawarkan mangga kepada Raka.

Mendengar tawaran itu Raka lantas tersenyum dan segera mencoba mengambil buah terdekat. Jarang-jarang di kota ia bisa menikmati mangga segar yang baru saja dipetik dari pohon. Belum lagi udara yang panas akan membuat mangga itu terasa lebih segar.

Raka pun berusaha memanjat pohon yang tidak terlalu tinggi itu tetapi ia tidak bisa.

“sini, aku bantu Kau naik,, kudorong Kau dari bawah” Amir menawarkan bantuan pada Raka.

Tak berapa lama Raka sudah bertengger di percabangan batang pohon itu. Dengan senyum puas ia menatap mangga-mangga segar di sekelilingnya dan memilih mana yang kira-kira paling enak.

Tiba-tiba terdengar suara pintu rumah pemilik pohon mangga itu dibuka dan Amir lantas beranjak setelah ia melihat Pak Agus, sang pemilik pohon mangga itu keluar.

“Pak Agus, anak kota ini ingin mencuri mangga” seru Amir yang kemudian segera berlari dari halaman rumah Pak Agus.

Sang pemilik rumah lantas keluar dengan langkah cepat sambil membawa sebilah pisau di tangan kanannya. Melihat hal itu Raka hanya bisa diam menunduk dengan tubuh gemetar ketakutan.

“hey Kau, yang diatas” Pak Agus memanggil raka dengan suaranya yang lembut.

Raka lantas memberanikan diri menatap sang pemilik rumah. Tetapi mulutnya tetap terkunci tak berani berkata-kata.

“Maukah Engkau mengambilkan satu buah saja untukku? Aku juga ingin menikmati mangga-mangga itu.” Pinta Pak Agus dengan suara lembut dan senyuman hangatnya.

Raka lantas mengambil beberapa buah mangga. Pak Agus lalu membantunya turun dari pohon. Dengan cekatan Pak Agus mengupas sebuah Mangga dan membaginya dengan Raka. Mereka menikmati buah itu bersama sembari mengobrol ringan. Sesaat kemudian Raka pamit pulang.

“bawalah ini, Nak. Untuk orang rumah”

Pak Agus mengulurkan 2 buah mangga besar. Dengan wajah ceria Raka menerima pemberian Pak Agus lantas berlari Pulang ke rumah kakeknya.

———————————————————————

Sedikit pelajaran dari kisah ini,,,

Terkadang kita nyaman bersama orang lain di dekat kita. Namun ada kalanya orang-orang itu menjatuhkan kita, membuat kita sakit hati, bahkan menghancurkan kita. Namun, kehancuran dan kepedihan itulah yang akan mempertemukan kita dengan orang yang lebih baik, yang lebih mengerti diri kita, yang tak sungkan mengulurkan tangannya untuk kita.

Terkadang kita harus menjumpai orang-orang yang salah, orang-orang yang menjatuhkan kita agar kita mengerti seperti apa orang yang baik dan yang lebih tepat berada di sisi kita… dan begitulah cara Tuhan menunjukkan kasihNya. Walaupun terkadang menyakitkan, namun terimalah… “ – Wisnu Anindyojati –

Yogyakarta, 20 September 2011

– Wisnu Anindyojati –

Spenggal Kalimat Syukur dan Sebutir Permohonan

 

Stasiun Tugu, 9 Desember 2011

Seperti minggu-minggu sebelumnya, aku menanti kereta api jurusan solo-kutoarjo. Pulang kampung sudah jadi rutinitasku tiap akhir pekan. Sekedar untuk bertemu dengan keluarga atau ikut sibuk dalam acara organisasi kampus yang akhir-akhir ini mengadakan sosialisasi di kotaku.

Menunggu kereta tiba, aku duduk di peron utara di samping pak tua sang penjual koran. Tak berapa lama, dari arah peron selatan nampak sesosok tubuh renta berbalut kebaya berwarna biru cerah dan selembar kain batik bermotif sidomukti. Kakinya yang tak beralaskan alas kaki terlihat melangkah kecil dengan penuh kehatia-hatian. Dengan menenteng sekeranjang salak di tangan kanannya dan menggenggam beberapa lembar plastik kresek hitam di tangan kirinya, sesekali ia berseru dengan suara lembutnya, “salake mangga, Bu… salake, Mas,, kagem oleh-oleh”.

Aku hanya terpaku menatapnya dari kejauhan. Setiap kali aku melihat pemandangan seperti itu, aku selalu bertanya-tanya, apakah barang jualannya akan laku? Jika laku berapa keuntungan yang ia dapatkan? Dan siapa saja yang ia hidupi dengan uang hasil dagangannya itu? Apakah itu cukup? Aku sempat mencoba menerka dari mana ia dapatkan salak-salak itu. Bukankah perkebunan salak di kawasan yogyakarta itu hanya ada di daerah Pakem dan Turi yang jauh dari pusat kota?

Dengan tubuh lelah dan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya, ia melangkah mendekat. Saat ia melangkah di depanku, aku yang hanya berbekal beberapa lembar uang kecil hanya bisa berpura-pura sibuk dengan hpku. Berharap ia tak manawarkan dagangannya padaku daripada aku harus menolaknya. Setelah ia berlalu dan menawarkan dagangannya pada seorang ibu yang berdiri tak jauh dari tempatku duduk, sejenak kupejamkan mata. Hanya sepenggal kalimat syukur dan sebutir permohonan akan kemuliaan yang bahkan tak terucap yang bisa kuberikan.

Sebuah Cerita Lama

Setelah sempet iseng ngobrak-abrik isi laptop, tadi nemu satu cerita yang sebenarnya sudah sangat lama yang tersimpan bersama catatan-catanan zaman jahiliyyah, ahaha… Mungkin sebagian sudah pernah tahu atau baca. Ceritanya memang sangat singkat, tapi untuk saya pribadi kisah satu ini cukup memberi pelajaran.

——————————————————————–

Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang yang buta. Panggil saja dia Si Buta. Annggaplah ia tak memiliki siapapun kecuali satu orang yang selalu setia berada di sampingnya. Ya, dialah kekasihnya.

Pernah satu saat si kekasih menanyakan pada si buta apa hadiah yang paling ia inginkan. Si Buta menjawab, “aku hanya ingin bisa melihat indahnya dunia dan melihat wajahmu”.

Hingga satu hari keinginannya tercapai. Seorang yang dermawan bersedia mendonorkan matanya untuk Si Buta. Akhirnya  Si Buta telah usai menjalani operasi dan kini adalah saat dimana ia bisa melihat dunia. Dan ternyata saat ia melihat kekasihnya ia terkejut. Ternyata kekasihnya itu juga buta. Si kekasih kemudian bertanya, “bagaimana? Kau sudah bisa melihat indahnya dunia sekarang?”. Si Buta (yang skarang sudah bisa melihat) menjawab, “ya… tapi mengapa selama ini kau tak pernah mengatakn padaku jika engkau juga buta?”

Singkat cerita, melihat keadaan kekasihnya yang ternyata juga buta, Si Buta tadi lantas bermaksud menyudahi hubangannya. Mendengar permintaan dari Si Buta, si kekasih hanya terdiam. Kemudian ia tersenyum dan berkata, “Baiklah jika itu yang engkau inginkan. Sebelumnya aku hanya ingin mengatakan aku benar-benar tulus mencintaimu. Dan satu pesan terakhirku dan aku harap engkau akan selalu mengingatnya, tolong jaga kedua mataku baik-baik, Sayang”

———————————————————————-

Pelajaran yang mungkin bisa kita petik dari kisah tadi,,

betapa kita tidak menyadarinya bahwa kita memiliki seseorang atau mungkin lebih yang begitu mengasihi kita. Dan mereka, tanpa sepengetahuan kita, memberi kita banyak hal. Walaupun yang mereka berikan hanyalah hal-hal kecil. Sebagai contoh, mereka yang membersihkan tempat kita saat kita pergi, terkadang mereka moncoba bicara pada orang lain yang tengah bermasalah dengan kita agar masalah itu cepat selesai tanpa sepengetahuan kita, kadang ketika kita kehilangan sesuatu mereka menggantinya dengan yang baru dan kita yang tidak tahu kemudian beranggapan “akhirnya ketemu juga”, terkadang mereka memberi kita hal-hal kecil,, mungkin berbagi makanan, atau mungkin tiba2 membelikan kita pulsa, dan mungkin mereka senantiasa menyebut nama kita dalam tiap doanya. satu yang mereka inginkan dari semua itu, mereka hanya ingin melihat kita tersenyum.

Mereka yang selalu berusaha membuatmu tersenyum dalam lelah dan keluhmu karena dengan melihatmu tersenyum mereka tersenyum adalah harta yang paling pantas untuk engkau syukuri  – Wisnu Anindyojati –

Purworejo, 27 November 2011

– Wisnu Anindyojati –

Ketika Kita Tidak Bisa Menari Balet, Bukan Berarti Kita Bodoh

Kisah satu ini terinspirasi dari UTS kemarin, karena galau menghadapi dan galau menunggu hasil UTS karena ragu dengan kemampuan saya sendiri, hhe… tp emang UTSe susah og,, arep njawab ngawur ae angel, apa maneh njawab bener -_-”

ini hanya sedikit percakapan ringan dan singkat antara seorang anak yg anggap saja tidak seperti anak lain dengan ibunya…

—————————————————-

anak: Bu, kenapa Tuhan tidak menciptakanku seperti anak2 yang lain?

Ibu : Maksudmu?

Anak : Kenapa aku harus berbeda dengan yang lain?

Ibu : (mendekap anaknya itu sembari tersenyemum) sekarang ibu tanya, Kenapa kamu harus sama dengan yang lain?

Anak : (tersenyum)

Ibu : sekarang, coba  kamu bayangkan! kalo ibu menyajikan sepiring nasi hangat, semangkuk kecil sayur bayam, 2 potong tempe goreng, dan sebuah pisang sebagai penutup untuk makan siangmu. bagaimana menurutmu?

Anak : hmm,, tentu aku akan makan banyak siang ini, hehehe

Ibu : (tertawa ringan). coba kita perhatikan. Di situ ada nasi dari biji padi, sayur bayam dari daun bayam. Kau lihat, Nak? Bayam itu akan enak saat kita petik daunnya dan kita masak. Tapi tanaman padi tidak akan mnjadi hidangan yang enak dimakan saat kita memasak daunnya. namun tidak berarti padi itu tidak enak dimakan, bukan? ketika padi itu memiliki biji yang baik, ia akan menjadi tanaman padi yang baik yang enak untuk dimakan (bijinya) sekalipun daunnya tidak enak di makan. Begitu juga dengan kita. Kita akan menjadi orang besar saat kita mau melakukan apa yang mampu kita lakukan sekalipun kita tidak bisa melakukan apa yang orang lain lakukan (tersenyum bijak).

—————————————————-

sedikit pelajaran yang mungkin bisa kita petik dari sepenggal percakapan di atas,,

Kita tidak akan, tidak bisa, dan tidak pantas disebut bodoh ketika kita tidak melakukan hal yang memang tidak bisa kita lakukan selama kita masih mau melakukan hal yang bisa kita lakukan. Memaksimalkan diri dalam melakukan hal yang bisa kita lakukan akan menjadikan kita menjadi pribadi yang baik dan akan membuat kita menjadi orang besar. Seperti orang2 besar di sekitar kita. Sebagai contoh misalkan H. Roma Irama. beliau menjadi besar karena beliau mampu bernyanyi dan mau memaksimalkan kemampuannya itu. dan beliau tidak pernah dianggap bodoh padahal beliau tidak bisa menjahit, menyulam, apalagi menari balet…. untuk menjadi pribadi yang besar, yang harus kita lakukan adalah melakukan apa yg bisa kita lakukan dengan maksimal, dan kita tidak harus melakukan yang orang lain lakukan.

Yogyakarta, 11 November 2011

-Wisnu Anindyojati-

Dirimu Memang Lucu

Sebuah kisah inspiratif dan cukup memberi motivasi… tapi ini bukan buatan saya, hehe

————————————————————

Alkisah, seorang kakek bijak melihat seorang pemuda yang tengah duduk dan menangis. Ia pun mendekati pemuda itu dan terjadilah percakapan di antara mereka berdua.

Kakek: Hei, Anak Muda… kenapa dirimu menangis?

Pemuda : aku sedih, Kek. aku ditinggal pergi oleh orang yang begitu aku cintai karena ia tak mencintai diriku.

Kakek : hahahahaahahaha

Pemuda : kenapa engkau malah tertawa, Kek?

Kakek : hahaha… maaf… tapi dirimu memang lucu… hahahaha

Pemuda : (dengan nada kesal) lucu bagaimna, Kek? jelas-jelas aku sedang bersedih.

Kakek : hahaha… untuk apa kau harus bersedih hanya karena ditinggal pergi oleh orang yang sama sekali tidak mencintaimu, Nak? seharusnya dia yang meninggalkanmu yang menangis dan bersedih karena dia meninggalkan orang yang jelas-jelas mencintainya… orang baik sepertimu, yang mau mencintai dengan tulus, pasti akan memperoleh seseorang yang juga akan mencintaimu. sedanggkan dia,, belum tentu dia akan mendapati orang sepertimu yang mau mencintainya dengan tulus.

Jika orang yang engkau cintai pergi meninggalkanmu, maka jadilah pribadi yang gagah dan katakanlah, “dia yang pergi itu rugi karena dia tidak tahu seberapa besar cinta saya dan yang akan saya lakukan untuk memuliakannya dan menjadikannya pribadi yang hebat” – Mario Teguh –

Nasehat dari Teman Duduk

Hanya ingin sekadar berbagi nasehat yang saya dapat seminggu yang lalu. Hari minggu yang lalu, pagi hari saya sempat duduk ditemani teman akrab saya, diri saya yang satu lagi, Wisnu Anindyojati yang satu lagi yang memang sering menjadi teman duduk saya dan yang selalu menemani saya saat saya sekedar menegakkan punggung dan menghanyutkan diri di samudra kalbu yg kadang saya lakukan di 1/3 malam…

Nah, ceritanya saat dia duduk di samping saya pagi itu, tiba2 dia, diri saya yg satu lagi bilang (kadang dia memang begitu) “saat kita memberi kesempatan pada orang, itu juga bisa berarti kita memberi kesempatan pada diri kita sendiri. Karena bisa saja dia yang mencari kesempatan itu berusaha mencari kesempatan agar bisa menyempatkan dirinya untuk kita”.

Saya hanya diam tak berkomentar,, Wisnu yang satu itu lantas menambahkan, “dan ketika kita melewatkannya, kita akan menjadi sering berkata ‘andai saja saat itu’….”

Mendengar pernyataan itu saya kemudian mengajukan pertanyaan, “bagaimana kita bisa menyesal jika kita tidak tahu kita akan mendapat kesempatan dan kita juga tidak tahu kalo ada orang yang berusaha menyempatkan dirinya untuk kita?”

Si Wisnu tertawa ringan dan menjawab, “setiap kebaikan tak akan pernah bisa ditutupi. Kita tetap akan mengetahui kebaikan dan ketulusan seseorang apalagi jika itu ditujukan pada kita sekalipun kita tak tahu atau sengaja tak mau tahu. Kebaikan yang tulus itu adalah keindahan yang sempurna. Saat kita menutup mata dan tak melihatnya, telinga kita masih bisa mendengar merdu suaranya. Saat kita kemudian menutup telinga, semerbak keharumannya masih bias kita cium. Dan ketika semua indera kita tidak aktif, hati kita akan tetap merasakan bahwa itu indah”

Purworejo, 13 November 2011

-Wisnu Anindyojati-

Ilmu Terakhir dari Sang Guru

Sebuah kisah yang saya sadur dari sepenggal kisah yang berasal dari negeri cina

——————————————————————————-

Alkisah, seorang ahli kunci telah mengajarkan ilmunya tentang semua jenis kunci  pada dua orang muridnya kecuali satu yang ia belum ajarkan. Dan ilmu terakhir itu hanya akan diwariskan pada salah satu dari kedua muridnya. Maka diadakanlah ujian untuk keduanya.

Untuk menguji kedua muridnya, sang guru menyiapkan dua buah peti yang berisi barang berharga dan terkunci rapat. Peti itu diletakkan dalam dua bilik berbeda.

“sekarang, untuk memilih salah satu dari kalian berdua, aku minta masing-masing dari kalian menuju ke salah satu bilik dan membuka gembok yang mengunci peti di dalam bilik itu. Setelah gembok terbuka, segeralah keluar.” Perintah sang guru.

Ujian pun dimulai. Kedua muridnya segera menuju ke bilik mereka masing-masing dan berusaha membuka gembok yang mengunci peti di dalam bilik itu. Tak berapa lama kemudian salah seorang murid keluar.

“saya telah berhasil membukanya, Guru…” kata si murid dengan wajah penuh kemenangan.

Sang guru pun bertanya, “apa isi peti itu?”

“sebuah kantong yang ternyata berisi butiran-butiran permata yang begitu indah. Andai saja saya bisa memilikinya…” jawab si murid.

Kemudian murid yang lain keluar. Melihat muridnya yang satu lagi keluar, sang guru bertanya, “bagaimana? Kau bisa menyelesaikan ujiannya?”

“ya, Guru. saya berhasil membuka gemboknya walaupun saya kalah cepat.” Jawab si murid

Sang guru kembali bertanya, “lalu apa isi peti itu?”

Si murid menjawab, “saya tak melihat isinya. Bahkan membukanya pun tidak. Saya hanya membuka gemboknya”.

Sang guru tersenyum dan berkata, “kau berhasil memenangkan ujian ini, Nak”

Kecewa mendengar perkataan sang guru, murid yang terlebih dahulu keluar lantas berkata, “Guru… bukankah aku yang lebih dulu menyelesaikan ujian ini?”

Sang guru tersenyum bijak dan menjawab, “ya, engkau memang lebih dulu selesai. Tapi kau tidak menjalankan apa yang aku perintahkan. Aku hanya memerintahkan agar kalian membuka gemboknya. Membuka peti dan melihat isinya bukanlah hak mu…

Si murid hanya terdiam.

Sang guru lantas menambahkan, “mengertilah, Nak… apapun tugas kita, kita harus menjunjung tinggi kebaikan moral. Ketika kita mengerjakan suatu tugas, kita bukan hanya dituntut untuk menjalankan kewajiban tapi juga dituntuk untuk memahami apa saja hak atau wewenang kita dalam tugas itu. Ketika engkau lebih dari orang lain, belum tentu engkau menjadi lebih baik dan lebih unggul dari orang itu. Jika engkau melebihkan dirimu dengan apa yang bukan hakmu, itu tidaklah menjadikanmu lebih baik.”

Post Navigation